Selamat Datang di Website Pribadi Guru Olahraga Menulis

Saturday, February 21, 2026

Tragedi di Balik Meja Teller, Gaya Hidup 'Manis' Berujung Pingsan


JAKARTA – Suasana sibuk di sebuah kantor cabang bank swasta ternama mendadak mencekam pada pukul 14.00 WIB kemarin. Rina (30), seorang teller yang dikenal dengan prestasi gemilang dan keramahannya, ditemukan ambruk tak sadarkan diri di balik meja kerjanya saat antrean nasabah sedang memuncak.

Kejadian yang berlangsung cepat tersebut memaksa petugas keamanan dan rekan sejawat melarikan Rina ke instalasi gawat darurat (IGD) terdekat. Sempat diduga hanya kelelahan biasa atau tekanan darah rendah, diagnosis dokter justru mengungkap kenyataan pahit: Rina dinyatakan positif Pra-diabetes.

"Lampu Kuning" yang Terabaikan

Melalui pemeriksaan medis, diketahui bahwa kadar gula darah puasa Rina berada di angka 120 mg/dL dengan nilai HbA1c mencapai 6,2%. Dalam dunia medis, angka ini merupakan sinyal bahaya atau "fase lampu kuning" menuju Diabetes Tipe 2.

Dokter yang menangani Rina menjelaskan bahwa tubuh wanita muda tersebut mengalami kelelahan pankreas. Pingsan yang dialaminya merupakan mekanisme pertahanan terakhir tubuh sebelum terjadi kerusakan permanen.

"Ini adalah peringatan keras. Tubuh tidak lagi mampu mengolah lonjakan gula yang terjadi terus-menerus akibat pola hidup yang tidak sehat," ujar dokter yang merawatnya.

Gaya Hidup Sedenter: Musuh dalam Selimut

Banyak rekan kerja yang terkejut karena Rina tidak memiliki riwayat keluarga diabetes dan memiliki postur tubuh yang ideal. Namun, tim medis menyoroti lima faktor utama yang menjadi pemicu kondisi Rina:

  1. Sedentary Lifestyle: Duduk diam selama 8–10 jam tanpa jeda aktivitas fisik.

  2. Pola Makan Berantakan: Sering melewatkan sarapan, lalu "balas dendam" dengan porsi makan siang berlebih.

  3. Kecanduan Gula: Konsumsi kopi susu kekinian dengan gula aren dan extra shot setiap hari sebagai pengusir kantuk.

  4. Kurang Gerak: Minimnya aktivitas fisik setelah jam kerja (langsung beristirahat/rebahan).

  5. Kelelahan Kronis: Mengabaikan gejala sugar rush dan lemas yang dianggap sebagai kelelahan biasa.

Waspadai Gejala "Sepele"

Kasus Rina menjadi pengingat bagi para pekerja kantoran bahwa pra-diabetes seringkali datang tanpa gejala yang mencolok. Masyarakat diimbau untuk waspada jika merasakan tanda-tanda berikut:

  • Kantung berat setelah makan: Rasa kantuk yang sangat hebat setelah mengonsumsi karbohidrat atau gula.

  • Perubahan fisik: Area kulit seperti leher bagian belakang yang tampak menghitam (Acanthosis Nigricans).

  • Sering buang air kecil: Terutama pada malam hari.

  • Luka sulit sembuh: Proses regenerasi kulit yang melambat.

Pesan Untuk Masyarakat

Kisah Rina adalah potret nyata bahwa kesehatan tidak bisa ditukar dengan karier sehebat apa pun. Pra-diabetes bersifat reversible atau bisa diperbaiki jika dideteksi lebih dini melalui perubahan pola makan dan olahraga rutin.

"Jangan tunggu sampai tubuh menyerah. Karena saat itu terjadi, yang mahal bukan sekadar obatnya, melainkan hilangnya kesempatan untuk kembali sehat sepenuhnya," tutup dokter tersebut.

Apakah Anda merasa sering mengantuk setelah makan siang atau memiliki gaya hidup serupa Rina? Mungkin ini saatnya Anda melakukan pemeriksaan gula darah rutin. Ingin saya bantu menyusun jadwal aktivitas fisik sederhana atau tips pola makan sehat untuk mencegah pra-diabetes.


Sumber: https://www.facebook.com/profile.php?id=100095582738998

Share:

0 comments:

Post a Comment

Arsip


Followers

Recent Comment

`