Sore itu, 28 April 2026, langit kota sedang cantik-cantiknya semburat jingga yang tenang, seolah mendukung niat Kang Mardi untuk keluar rumah. Dengan penuh gaya, beliau mengeluarkan "harta karun" dari garasi: Yamaha Crypton lansiran 1997.
Meskipun sudah hampir tiga dekade, suara mesinnya masih tetap khas, reng-te-te-teng halus, tanda dirawat dengan cinta. Tujuan utamanya satu: Bagus Taylor di simpang empat Jalan Melati. Kang Mardi sudah membayangkan bakal memakai baju barunya untuk acara perpisahan akhir bulan.
Harapan yang Pupus di Simpang Melati
Sesampainya di simpang empat, Kang Mardi menarik rem pelan. Namun, senyumnya agak sedikit luntur. Pintu harmonika Bagus Taylor sudah tertutup rapat. Gembok besar sudah nangkring di sana.
"Wah, keduluan tutup rupanya," gumam Kang Mardi sambil memperbaiki posisi spion Crypton-nya yang sedikit goyang.
Karena merasa rugi kalau langsung pulang apalagi bensin Crypton-nya masih penuh kang mardi memutuskan untuk city rolling alias jalan-jalan santai menikmati suasana sore.
Menikmati Sore yang Sempurna
Sambil duduk santai di atas jok motor yang empuk, Kang Mardi membuka kotak kecil berisi butiran jagung bakar yang masih hangat. Bumbunya meresap, ada sensasi gosong-gosong manis yang pas di lidah.
"Gagal ambil jahitan tidak apa-apa, yang penting perut dapat jatah kebahagiaan," batin Kang Mardi sambil melihat lalu lalang kendaraan di depannya.
Sore itu, di atas Yamaha Crypton kesayangannya, Kang Mardi membuktikan bahwa bahagia itu sederhana: cukup dengan motor tua yang sehat, angin sore yang sejuk, dan seporsi jagung bakar sepuluh ribuan.
















