Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, hampir tak terasa. Malam ini, jarum jam seolah bergerak lebih gesit dari biasanya saat layar laptop saya menyala. Kegiatan belajar menulis dan menerbitkan buku bersama Om Jay yang saya ikuti ternyata sudah memasuki pertemuan ke-9. Ada rasa bangga, namun juga ruang rindu yang mulai tumbuh mengingat perjalanan panjang ini sudah melewati separuh jalan.
Suasana ruang virtual malam itu terasa berbeda. Hadir sebagai narasumber adalah Ibu Siska Destiana, seorang sosok multitalenta yang rekam jejaknya membuat siapa pun berdecak kagum. Beliau adalah seorang yang sangat berpengalaman di bidang Public Relation, Trainer dan Public Speaking, Jurnalistik, hingga Marketing dan Komunikasi. Tidak hanya itu, kepakarannya juga merambah dunia parenting, penguasaan Bahasa Inggris, Standard Operating Procedure Development, Training Development (terutama di bidang pendidikan), serta tentu saja, dunia menulis dan editing.
Di awal sesi, sebuah pertanyaan mendasar dilemparkan ke forum, memantik ruang renung kami semua: Mengapa kita harus menulis?
Ibu Siska menguraikannya dengan begitu indah dalam tiga poin utama yang menancap kuat di kepala saya:
Pertama, sebagai pengikat ilmu. Dalam konteks ajaran Islam, Rasulullah SAW bersabda, "Ikatlah ilmu dengan tulisan." Menulis sejatinya adalah bentuk knowledge management (manajemen pengetahuan). Ketika kita menulis di blog tentang aktivitas keseharian, atau berbagi tentang kepakaran dan wawasan yang kita kuasai, kita sedang mengabadikan ilmu agar bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, sebagai jejak langkah. Tulisan adalah prasasti hidup. Melalui barisan kata, kita bisa bercerita kepada orang lain—atau kepada masa depan—bahwa kita pernah mengunjungi suatu tempat, pernah memiliki pengalaman kerja yang berharga, pernah melakukan sesuatu, atau pernah melahirkan sebuah ide dan gagasan yang hebat.
Ketiga, sebagai legalisasi ide. Menulis adalah cara mematenkan gagasan kita. Jangan sampai kita memiliki ide cemerlang, membicarakannya ke sana-kemari tanpa dokumentasi, lalu di kemudian hari orang lain yang mendengarnya justru mengeksekusi dan mengklaim ide tersebut sebagai miliknya.
Menyelami Samudra Non-Fiksi
Materi inti malam itu membawa kami menyelami dunia tulisan non-fiksi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), non-fiksi diartikan sebagai tulisan yang tidak bersifat fiksi, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan, baik itu berupa karya sastra maupun karangan. Ibu Siska menegaskan bahwa karya non-fiksi adalah sebuah karya inovatif di mana penulisnya memegang tanggung jawab penuh atas kebenaran dan akurasi informasi yang disajikan.
Beliau kemudian membedah ragam karya non-fiksi yang bisa kami eksplorasi sebagai calon penulis buku:
1. Berita
Cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa hangat. Teknik menulisnya dibedakan menjadi dua:
Hard News: Berita yang ditulis secara lugas, singkat, to the point, dan tidak bertele-tele.
Feature: Berita yang disajikan secara informatif namun tetap menghibur. Ini tergolong sebagai artikel kreatif.
2. Esai (Opini)
Sebuah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu, namun diambil dari sudut pandang pribadi penulisnya.
3. Catatan Perjalanan
Tulisan yang merekam proses sebuah perjalanan atau ulasan tentang apa saja yang ditemui di sepanjang jalan. Mulai dari keindahan tempat yang dikunjungi, keunikan budaya daerah, hingga cita rasa makanan khasnya.
4. Artikel Informatif
Tulisan murni yang berisi informasi tentang suatu hal dengan tujuan utama menambah pengetahuan pembaca. Dalam bahasa populer, genre ini sering juga disebut dengan artikel feature.
5. Best Practice
Ini adalah tulisan tentang pengalaman terbaik seseorang dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Best practice biasanya lahir dari tangan para pendidik atau mereka yang terlibat langsung di dunia pendidikan. Selain berfungsi sebagai lesson study bagi sesama guru, produk tulisan ini juga bisa menjadi sumbangsih dan masukan berharga bagi pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita.
Malam semakin larut ketika sesi tanya jawab dibuka, namun semangat di dalam ruang virtual itu sama sekali tidak menyurut. Penjelasan Ibu Siska malam ini tidak sekadar memberikan teori baru tentang non-fiksi, melainkan sebuah bahan bakar spiritual bagi jemari saya untuk terus mengetik.
Menulis non-fiksi ternyata bukan sekadar merangkai fakta, melainkan cara kita bertanggung jawab pada kebenaran dan mengabadikan kebermanfaatan diri bagi dunia. Kelas Om Jay malam ini sukses menyalakan kembali api literasi itu. Saya menutup laptop dengan senyuman, siap menyambut pertemuan berikutnya dengan draf tulisan yang lebih bermakna.







0 comments:
Post a Comment