Gerak Jalan
Gerak Jalan Tradisional menempuh jarak 28 KM dari Markas Besar Komando Djawa (MBKD) Jendral Soedirman Desa Kepurun, Manisrenggo finish di Monumen Juang 45 Joggrangan Klaten.
Juara O2SN SD KALTENG 2015
Hasil O2SN Tingkat SD Cabang Olahraga Tenis Meja Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005
Juara HUT KORPRI Kapuas
Kejuaraan Tenis Meja dan Sepak Bola Mini dalam Rangka HUT KORPRI Kabupaten Kapuas Tahun 2011
Juara Kelas 9.4
Penerimaan Raport Semester I Tahun Pelajaran 2021/2022
Kejuaraan Tenis Meja Bupati Cup Kapuas
Hasil Kejuaraan Tenis Meja Bupati Cup Kapuas Tahun 2021
Wednesday, August 27, 2014
Pemandian Cokro
Memeriahkan Lomba HUT RI di Jonggrangan Klaten
Tahun ini Rara tampil dalam lomba dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten. Semoga dapat meneruskan cita-cita perjuangan para pahlawan bangsa.
Karnaval HUT RI di Klaten
Karnaval dalam rangka memperingati HUT RI ke 69 dilaksanakan di Kabupaten Klaten. Karnaval dibagi menjadi dua kategori jalan kaki dan kendaraan/mobil yang dilaksanakan tanggal 18 dan 19 Agustus 2014. Tahun ini Rara berkesempatan melihat meriahnya karnaval di kota Klaten.
Saturday, August 23, 2014
Dibalik Garis Lapangan: 3 Fungsi Vital Pelatih Saat Atlet Bertanding
Dalam dunia olahraga, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik dan teknik atlet di lapangan. Ada sosok di pinggir lapangan yang memegang kendali strategis dan emosional, yaitu pelatih. Meskipun latihan memakan porsi 90% dari total waktu persiapan, peran pelatih dalam 10% waktu pertandingan adalah penentu keberhasilan hasil akhir.
Berikut adalah tiga fungsi utama yang harus dijalankan seorang pelatih saat mendampingi atlet bertanding:
1. Pengatur Strategi yang Bijak
Seorang pelatih harus menjadi otak di balik setiap gerakan atlet. Namun, strategi yang baik bukan berarti memberikan instruksi tanpa henti.
Efisiensi Instruksi: Berikan nasihat secukupnya. Jangan menjejali atlet dengan analisis berlebihan tentang kekuatan lawan yang justru bisa memicu kecemasan.
Personalisasi Dukungan: Ingatlah bahwa setiap atlet memiliki karakter berbeda. Ada yang membutuhkan instruksi teknis yang detail, ada pula yang hanya membutuhkan dorongan semangat singkat.
Pendengar yang Baik: Sediakan waktu khusus bagi atlet yang ingin berbicara sesaat sebelum pertandingan. Kehadiran Anda secara utuh dapat menenangkan pikiran mereka yang sedang tegang.
2. Psikolog: Pilar Ketenangan
Saat tensi pertandingan memuncak, pelatih adalah cerminan mental bagi atletnya.
Kendali Emosi: Jika Anda sebagai pelatih merasa ragu atau takut kalah, jangan pernah memperlihatkannya. Atlet mencari keyakinan di mata pelatih mereka. Jika Anda percaya pada mereka, mereka akan percaya pada diri sendiri.
Adaptasi Situasi: Pelatih harus mampu membaca perubahan suasana hati atlet dan memberikan intervensi mental yang tepat, apakah itu menenangkan yang terlalu agresif atau membangkitkan yang sedang lesu.
3. Pengamat yang Objektif
Tugas ini sangat krusial karena atlet yang sedang bertanding sering kali tidak menyadari kesalahan teknis yang mereka lakukan.
Dokumentasi dan Evaluasi: Jika memungkinkan, rekamlah jalannya pertandingan. Video adalah alat evaluasi paling jujur. Jika tidak memungkinkan, buatlah catatan detail mengenai pola permainan, kekuatan, dan kelemahan yang muncul di lapangan.
Menyikapi Kekalahan: Kekalahan harus ditanggapi secara positif sebagai fakta evaluasi, bukan ruang untuk mencari kesalahan.
Filosofi Kesalahan: Seorang pelatih hebat harus memegang prinsip: "Atlet tidak pernah salah, mereka hanya melakukan kesalahan." Kalimat ini memisahkan antara identitas atlet dengan kegagalan teknis, sehingga atlet tetap memiliki motivasi untuk bangkit.
Kesimpulan
Pelatih bukan sekadar pemberi instruksi fisik, melainkan seorang arsitek strategi, pelindung mental, dan pengamat yang jeli. Keberhasilan seorang pelatih saat pertandingan diukur dari seberapa tenang atletnya bertanding dan seberapa cepat mereka belajar dari setiap momen di lapangan.
Seni Melatih: Menyeimbangkan Strategi dan Jiwa di Lapangan Latihan
Dalam dunia olahraga, terdapat satu filosofi penting yang harus dipegang teguh: "Latihan adalah milik pelatih, namun kompetisi adalah milik atlet." Kalimat ini menegaskan bahwa masa latihan adalah waktu bagi pelatih untuk membentuk, mengarahkan, dan mempersiapkan segalanya. Namun, saat peluit pertandingan berbunyi, sang atletlah yang memegang kendali penuh atas nasibnya.
Seorang pelatih hebat menyadari bahwa tidak akan pernah ada dua atlet yang identik, meskipun mereka menjalani menu latihan yang sama. Perbedaan bakat, fisik, dan mental menuntut pelatih untuk menjadi lebih dari sekadar instruktur, melainkan sosok multifungsi yang menjalankan lima peran vital berikut:
1. Pakar Teknis (Technical Expert)
Pelatih adalah sumber ilmu bagi atletnya. Anda harus menguasai setiap detail teknis dari cabang olahraga yang ditekuni.
Keyakinan adalah Kunci: Sampaikan ilmu Anda dengan penuh rasa percaya diri. Keragu-raguan dalam memberikan instruksi teknis akan meruntuhkan kepercayaan atlet kepada Anda.
Keserhanaan Bahasa: Hindari jargon teknis yang rumit. Kata-kata teknis adalah untuk pemahaman Anda sendiri, sementara bagi atlet, gunakanlah bahasa yang paling sederhana agar pesan tersampaikan dengan akurat.
2. Pendidik (Educator)
Seperti halnya seorang guru, pelatih harus terus memperbarui pengetahuannya tentang metode-metode terbaru.
Metode "Sederhanakan": Jabarkan instruksi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dipahami.
Prinsip Integritas: Jangan pernah memberikan instruksi tentang sesuatu yang belum Anda kuasai dengan benar. Seorang pelatih harus menjadi ahli sebelum menjadi pengajar.
3. Motivator (Inspirasi Diri)
Tugas pelatih bukan hanya menyemangati, tetapi memicu timbulnya motivasi intrinsik (dari dalam diri) atlet.
Adaptasi Lingkungan: Motivasi tumbuh saat atlet merasa nyaman dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Bimbinglah mereka untuk menyesuaikan diri dengan tekanan latihan dan dinamika tim agar semangat mereka tetap konsisten.
4. Organisator (Manajer Efisiensi)
Latihan yang berat sudah merupakan beban yang besar bagi seorang atlet. Jangan bebani mereka dengan urusan administratif atau kepengurusan.
Struktur yang Rapi: Organisasi latihan yang buruk akan menghasilkan penampilan yang buruk. Aturlah jadwal, logistik, dan variasi latihan agar atlet tetap fokus pada performa.
Batasan Pribadi: Bertindaklah sebagai penengah jika masalah pribadi atlet mulai mengganggu performa, namun tetaplah menghormati privasi mereka jika tidak diperlukan intervensi.
5. Pengarah (Director)
Anda adalah nahkoda dari program latihan. Tanggung jawab penuh atas arah perkembangan atlet ada di tangan Anda.
Kepemimpinan Tegas: Pengarahan yang lemah atau tidak jelas akan membawa kehancuran pada karier atlet. Bertindaklah secara tegas dan positif untuk memastikan setiap sesi latihan memiliki tujuan yang jelas dan progresif.
Kesimpulan
Menjadi pelatih berarti bersiap untuk melihat kekurangan dan perbedaan di antara para atlet. Dengan berkomunikasi menggunakan bahasa yang sederhana dan menjalankan kelima fungsi di atas secara seimbang, Anda tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga membentuk karakter tangguh yang siap "memiliki" kompetisi mereka sendiri.
Berlatihlah sesuai yang dilatihkan, dan biarkan atlet Anda bersinar di hari pertandingan!
Friday, August 22, 2014
Asas-Asas Pendidikan Olahraga: Membangun Manusia Seutuhnya Melalui Gerak
Dalam dunia pendidikan, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik untuk mengeluarkan keringat. Ia adalah sebuah instrumen pendidikan yang kompleks dan terukur. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pemahaman mendalam mengenai Asas-Asas Pendidikan Olahraga, yang mempertemukan tiga pilar utama: Asas, Usaha Pendidikan, dan Olahraga itu sendiri.
1. Asas: Kompas Ilmiah Sang Pendidik
Asas adalah ketentuan atau pedoman yang wajib diperhatikan oleh setiap guru olahraga saat mengajar. Mengabaikan asas berarti mempertaruhkan keberhasilan pembelajaran, bahkan berisiko merusak pertumbuhan dan perkembangan anak didik.
Bekerja tanpa asas yang benar adalah sebuah bahaya. Oleh karena itu, asas pendidikan olahraga berpijak pada dasar-dasar ilmiah yang kuat, terutama ilmu tentang manusia:
Biologi: Memahami mekanisme tubuh dan pertumbuhan fisik.
Psikologi: Memahami aspek kejiwaan, motivasi, dan mental anak.
Sosiologi: Memahami interaksi sosial dalam kegiatan beregu atau kompetisi.
2. Usaha Pendidikan: Menuju Kedewasaan
Usaha pendidikan diartikan sebagai tindakan yang disengaja untuk memengaruhi pertumbuhan anak ke arah kedewasaan. Dalam konteks ini, pendidikan olahraga memiliki tujuan yang selaras dengan pendidikan umum lainnya.
Sasarannya bukan hanya agar anak mahir bertanding, melainkan perkembangan kepribadian manusia seutuhnya. Melalui senam, atletik, permainan, bela diri, hingga renang, anak didik dibentuk karakter, disiplin, dan ketangguhannya.
3. Memahami Esensi Olahraga
Olahraga adalah kegiatan fisik yang menuntut kesanggupan jasmaniah menyeluruh. Setiap gerakan dalam olahraga memiliki maksud tertentu dan berpengaruh langsung pada kepribadian pelakunya. Olahraga biasanya diwujudkan dalam bentuk permainan, perlombaan, atau pertandingan.
Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam istilah-istilah yang sering digunakan di lapangan:
Sport: Berasal dari bahasa Inggris yang semula berarti "bersenang-senang". Awalnya dilakukan untuk mengisi waktu senggang, namun kini berkembang luas hingga menjadi pekerjaan untuk memperoleh penghasilan, yang kita kenal sebagai Profesionalisme.
Pendidikan Jasmani (Physical Education): Fokus utamanya bukan mendidik "jasad" atau tubuh semata, melainkan menggunakan tubuh sebagai sasaran antara untuk membina manusia seutuhnya. Berbeda dengan sport yang terikat pada aturan baku kompetisi, pendidikan jasmani lebih fleksibel dan menggunakan latihan serta permainan yang sengaja diciptakan sesuai kebutuhan tumbuh kembang siswa.
Kesimpulan
Pendidikan olahraga adalah sebuah mandat besar bagi guru dan pelatih. Dengan memegang teguh asas-asas yang benar, olahraga menjadi alat yang sangat ampuh untuk mencetak generasi yang tidak hanya sehat secara fisik (jasad), tetapi juga matang secara mental dan sosial.
"Tanpa asas yang dapat dipertanggungjawabkan, seorang pendidik tidak mungkin mencapai tujuan sejatinya."
Diresume dari : Drs. Moch. Soebroto, M.Ed, Asas-asas Umum Pengetahuan Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sunday, August 17, 2014
Cara Mudah Ganti Nama di Google Plus
Saturday, August 16, 2014
Cara membuat Headline News di Blog
1. Login ke Blogger
2. Masuk ke Menu Tata Letak
3. Pilih tambah Gadget > Pilih HTML Java Script
<script type="text/javascript">var hn_url_blog = "http://etanal.web.id/";var hn_jumlah_post = 10;var hn_warna_latar = "#FAF8F8";var hn_warna_garis = "#FD0606";var hn_posisi = "top";var hn_tampilkan_judul = true;var hn_backlink = true;</script> <script src="http://googlecode-fadilblogx.googlecode.com/files/headline_news.js"> </script>
4. Simpan
Keterangan :
Saya rasa cukup sekian dulu Tutorial tentang Cara membuat Headline News di Blog, Efek Marque ( teks berjalan ).
Sekian, Semoga bermanfaat.
Saturday, August 9, 2014
Belajar Pianika
Memakai Seragam Hizbul Wathan
Kuala Kapuas (9/8) hari ini masuk sekolah dengan seragam Hizbul Wathan (HW). Apa sih Hizbul Wathan? Hizbul Wathan merupakan Gerakan Kepanduan adalah salah satu organisasi otonom di Persyarikatan Muhammadiyah. Organisasi otonom Muhammadiyah lainnya adalah: 'Aisyiyah, Nasyiatul 'Aisyiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).HW didirikan di Yogyakarta pada 1336 H (1918 M) atas prakarsa KH Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri Muhammadiyah
















